STUKTUR DAN TRANSPOR MEMBRAN
1. Struktur Membran Sel (Membran Plasma)
- Membran sel memiliki struktur yang sangat dinamis dan kompleks.
- Model struktur membran yang diakui saat ini adalah Model Mosaik Fluida (Fluid Mosaic Model) yang dikemukakan oleh Singer dan Nicolson.
- Fosfolipid Bilayer (Dua Lapisan Fosfolipid):
- Merupakan struktur dasar penyusun membran sel.
- Setiap molekul fosfolipid terdiri atas:
- Kepala (Gugus Fosfat): Bersifat hidrofilik (suka air/polar) dan menghadap ke arah luar serta dalam sel (lingkungan berair).
- Ekor (Asam Lemak): Bersifat hidrofobik (takut air/non-polar) dan menghadap ke bagian dalam membran (tersembunyi dari air).
- Protein Membran:
- Protein Integral (Intrinsik): Protein yang menembus kedua lapisan fosfolipid bilayer. Berfungsi sebagai saluran atau transpor molekul besar/polar.
- Protein Perifer (Ekstrinsik): Protein yang hanya menempel pada permukaan luar atau dalam fosfolipid bilayer dan tidak menembus membran. Berfungsi dalam proses persinyalan sel atau sebagai enzim.
- Karbohidrat (Glikokaliks):
- Karbohidrat yang menempel pada protein disebut Glikoprotein.
- Karbohidrat yang menempel pada lipid disebut Glikolipid.
- Fungsi: Sebagai reseptor (penerima rangsang) dan penanda identitas sel untuk pengenalan antar-sel.
- Kolesterol:
- Terselip di antara molekul-molekul fosfolipid (khusus pada sel hewan).
- Fungsi: Menjaga fluiditas, stabilitas, dan fleksibilitas membran sel agar tidak terlalu cair pada suhu panas dan tidak terlalu kaku pada suhu dingin.
- Sifat Membran Sel: Selektif Permeabel atau Semipermeabel, artinya hanya dapat dilalui oleh air dan zat-zat tertentu yang terlarut di dalamnya (seperti molekul kecil non-polar), sementara zat lain (molekul besar atau bermuatan/ion) tertahan.
2. Transpor Pasif (Tanpa Energi / ATP)
- Transpor pasif adalah perpindahan zat melintasi membran sel yang tidak memerlukan energi (ATP) karena zat bergerak searah dengan gradien konsentrasi (dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah).
- Terdiri dari:
- Difusi Sederhana (Simple Diffusion)
- Definisi: Perpindahan zat terlarut (solute) dari larutan berkonsentrasi tinggi (hipertonis) ke larutan berkonsentrasi rendah (hipotonis) hingga mencapai kondisi seimbang (isotonis).
- Mekanisme: Zat melewati fosfolipid bilayer secara langsung tanpa bantuan protein.
- Contoh: Pertukaran gas Oksigen dan Karbondioksida di alveolus saat bernapas, atau sirup yang menyebar di dalam air.
- Difusi Terfasilitasi (Facilitated Diffusion)
- Definisi: Perpindahan zat terlarut dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah yang memerlukan bantuan protein pembawa (carrier) atau protein saluran (channel).
- Alasan Terfasilitasi: Zat tersebut berukuran terlalu besar atau bermuatan (polar), sehingga tidak bisa menembus ekor fosfolipid yang hidrofobik.
- Contoh: Transportasi glukosa, asam amino, dan ion-ion seperti Na atau K+ masuk ke dalam sel.
- Osmosis
- Definisi: Perpindahan pelarut atau molekul air (solvent) dari larutan berkonsentrasi zat terlarut rendah (hipotonis / banyak air) ke larutan berkonsentrasi zat terlarut tinggi (hipertonis / sedikit air) melalui membran semipermeabel.
- Dampak osmosis pada sel:
- Difusi Sederhana (Simple Diffusion)
Tabel 1: Dampak Osmosis pada Sel
| Kondisi Lingkungan | Dampak pada Sel Hewan (Contoh: Sel Darah Merah) | Dampak pada Sel Tumbuhan |
| Hipertonis (Lingkungan lebih pekat dari sel) | Air keluar → Sel mengkerut (Krenasi) | Air keluar → Membran sel lepas dar dinding sel (Plasmolisis) |
| Isotonis (Konsentrasi sama/seimbang) | Normal (Bentuk sel tetap/ideal) | Lembek/Normal (Flaksid) |
| Hipotonis (Lingkungan lebih encer dari sel) | Air masuk → Sel menggembung lalu pecah (Lisis/Hemolisis) | Air masuk → Sel membengkak dan tegang, tetapi tidak pecah karena ditahan dinding sel (Turgid) |


3. Transpor Aktif (Memerlukan Energi / ATP)
- Transpor aktif adalah perpindahan zat melintasi membran sel yang memerlukan energi seluler (ATP) karena zat bergerak melawan gradien konsentrasi (dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi).
- Terdiri dari:
- Pompa Ion
- Definisi: Transpor ion melewati membran sel menggunakan protein integral khusus yang dipicu oleh pemecahan ATP.
- Contoh Klasik: Pompa Natrium-Kalium (Na+/K+)
- Sel membutuhkan konsentrasi K yang tinggi di dalam sel dan Na+ yang rendah di dalam sel.
- Mekanisme kerja pompa ini mengeluarkan 3 ion Na ke luar sel dan memasukkan 2 ion K ke dalam sel melawan gradien konsentrasi dengan mengonsumsi 1 molekul ATP.
- Kotranspor
- Definisi: Transpor aktif dari suatu zat yang secara tidak langsung menggerakkan transpor zat lainnya.
- Mekanisme: Protein transpor mengizinkan satu ion (misalnya Na atau H+) mengalir kembali searah gradiennya, dan energi dari aliran tersebut digunakan untuk mengangkut molekul lain (seperti glukosa atau asam amino) melawan gradien konsentrasinya.
- Contoh: Kotranspor Sukrosa-H+ pada sel tumbuhan atau Kotranspor Glukosa-Na pada sel usus halus.
- Pompa Ion
3. Transpor Massal atau Transpor Vesikuler (Endositosis dan Eksositosis)
- Digunakan untuk memasukkan atau mengeluarkan zat berukuran makro (sangat besar) yang dibungkus di dalam kantung membran (vesikel).
- Terdiri dari:
- Endositosis: Proses memasukkan zat ke dalam sel dengan cara melekukkan membran sel ke dalam hingga membentuk vesikel. Dibedakan menjadi:
- Fagositosis (“Sel memakan”): Memasukkan zat padat atau sel lain. Contoh: Sel darah putih (makrofag) memakan bakteri patogen.
- Pinositosis (“Sel meminum”): Memasukkan zat cair atau larutan ekstraseluler.
- Endositosis Termediasi Reseptor: Memasukkan zat spesifik yang harus berikatan dulu dengan reseptor membran (contoh: penyerapan kolesterol).
- Eksositosis: Proses mengeluarkan zat dari dalam sel. Vesikel dari dalam sel (biasanya dibentuk oleh Badan Golgi) bergerak menuju membran sel, berfusi dengannya, dan melepaskan isinya ke luar sel. Contoh: Pengeluaran hormon insulin dari sel pankreas, sampah dari pencernaan lisosom atau pelepasan neurotransmiter pada sel saraf.
- Endositosis: Proses memasukkan zat ke dalam sel dengan cara melekukkan membran sel ke dalam hingga membentuk vesikel. Dibedakan menjadi:
SIKLUS SEL DAN PEMBELAHAN SEL
1. Konsep Dasar Siklus Sel & Interfase
- Siklus sel adalah tahapan kehidupan sel dari saat sel tersebut terbentuk melalui pembelahan hingga sel tersebut membelah kembali.
- Siklus sel dibagi menjadi dua fase utama: Interfase (fase persiapan/non-pembelahan) dan Fase Mitotik (M) (fase pembelahan).
- Interfase menempati sekitar 90% dari total waktu siklus sel.
- Berikut tahapan interfase:
- Fase G1 (Gap 1 / Pertumbuhan Primer)
- Sel mengalami pertumbuhan fisik yang pesat dan ukuran sel bertambah secara signifikan.
- Terjadi sintesis protein fungsional secara aktif, pembentukan RNA, serta penggandaan organel sel (seperti mitokondria dan ribosom).
- Fase S (Sintesis)
- Terjadi replikasi DNA (penggandaan materi genetik) secara akurat.
- Terjadi duplikasi sentrosom (organel yang mengatur benang spindel).
- Di akhir fase S, kromosom untai tunggal berubah menjadi kromatid saudara yang melekat pada sentromer, meskipun belum mengalami kondensasi (masih berbentuk benang kromatin longgar).
- Fase G2 (Gap 2 / Pertumbuhan Sekunder)
- Sintesis protein esensial khusus untuk pembelahan sel, seperti protein tubulin penyusun benang spindel.
- Terjadi pengecekan akhir replikasi DNA. Jika ditemukan kesalahan, siklus sel akan dihentikan sementara untuk perbaikan sebelum masuk Fase M.
- Fase G0 (Fase Istirahat / Quiescent)
- Fase di luar siklus sel aktif di mana sel keluar dari siklus pembelahan karena tidak menerima sinyal pertumbuhan atau kondisi lingkungan tidak mendukung.
- Sel dalam fase G0 tetap aktif secara metabolik menjalankan fungsinya (misalnya sel saraf matang dan sel otot jantung manusia), tetapi tidak melakukan replikasi maupun pembelahan.
- Fase G1 (Gap 1 / Pertumbuhan Primer)
2. Pembelahan Mitosis (Pembelahan Sel Somatis)
Mitosis adalah pembelahan sel yang menghasilkan dua sel anak dengan jumlah kromosom yang identik (sama) dengan sel induk (2n -> 2n atau n -> n).
- Berfungsi untuk pertumbuhan, regenerasi jaringan, dan reproduksi aseksual pada organisme uniseluler.
- Tahapan pembelahan :
- Tahapan Karyokinesis (Pembelahan Inti)
- Profase
- Benang-benang kromatin mengalami kondensasi, menebal, dan memendek membentuk kromosom.
- Nukleolus (anak inti) menghilang dan membran inti (nukleus) mulai hancur terfragmentasi.
- Sentrosom memisah dan bergerak menuju kutub sel yang berlawanan, sambil menjulurkan benang-benang spindel (mikrotubulus).
- Metafase
- Membran inti telah hancur sepenuhnya.
- Benang spindel mengikat kinetokor pada sentromer masing-masing kromosom.
- Kromosom berjajar tunggal di bidang ekuator sel (lempeng metafase). Ini adalah tahap terbaik untuk menghitung jumlah kromosom (kariotipe).
- Anafase
- Kinetokor memendek dan sentromer membelah.
- Kromatid saudara terpisah dan ditarik oleh benang spindel menuju kutub sel yang berlawanan.
- Kromatid yang terpisah ini sekarang dihitung sebagai kromosom mandiri.
- Telofase
- Kromosom telah sampai di kutub-kutub berlawanan dan mulai merenggang kembali menjadi benang kromatin yang tipis.
- Membran inti sel dan nukleolus mulai terbentuk kembali di sekitar setiap set kromosom baru.
- Profase
- Tahapan Sitokinesis (Pembelahan Sitoplasma)
- Pada Sel Hewan: Terjadi pembentukan Cincin Kontraktil dari mikrofilamen aktin dan miosin di bagian tengah sel yang menjepit membran sel ke dalam, menciptakan takik pembelahan (cleavage furrow) hingga sel terbagi dua.
- Pada Sel Tumbuhan: Karena sel tumbuhan memiliki dinding sel yang kaku, tidak terbentuk takik pembelahan. Sebagai gantinya, vesikel-vesikel dari Badan Golgi berkumpul di tengah sel membentuk Lempeng Sel (cell plate) yang perlahan meluas ke arah luar hingga membentuk dinding sel baru.
- Tahapan Karyokinesis (Pembelahan Inti)
3. Pembelahan Meiosis (Pembelahan Reduksi)
- Meiosis adalah pembelahan sel khusus yang menghasilkan empat sel anak yang secara genetik non-identik, dengan jumlah kromosom setengah dari sel induk (2n -> n).
- Meiosis terjadi pada pembentukan sel gamet (gametogenesis). Meiosis terbagi menjadi dua divisi seluler besar:
- Meiosis I (Pemisahan Kromosom Homolog)
- Profase I (Terdiri dari 5 Sub-fase Krusial)
- Leptoten: Kromatin berkondensasi menjadi kromosom tunggal yang terlihat tipis.
- Zigoten: Kromosom-kromosom homolog (yang memiliki struktur dan gen bersesuaian) saling berpasangan secara erat melalui proses sinapsis membentuk kompleks sinaptonemal.
- Pakiten: Kromosom homolog menggandakan kromatidnya sehingga membentuk kelompok empat kromatid yang disebut Tetrad.
- Diploten: Kompleks sinaptonemal terurai, kromosom homolog mulai sedikit merenggang tetapi tetap terikat pada titik persilangan kromatid non-saudara yang disebut Kiasma. Di kiasma inilah terjadi Pindah Silang (Crossing Over) yang menukar materi genetik dan menciptakan rekombinasi variasi genetik.
- Diakinesis: Nukleolus dan membran inti menghilang, benang spindel terbentuk sempurna, dan tetrad bergerak menuju lempeng metafase.
- Metafase I
- Kromosom-kromosom homolog berpasangan (tetrad) berjajar bersama di sepanjang bidang ekuator sel secara acak (Prinsip Asortasi Bebas Mendel).
- Anafase I
- Benang spindel memendek dan menarik kromosom homolog untuk saling memisah menuju kutub yang berlawanan.
- Catatan penting: Sentromer tidak membelah pada tahap ini; kromatid saudara tetap menempel bersama.
- Telofase I & Sitokinesis I
- Kromosom tiba di kutub sel dan diikuti pembelahan sitoplasma. Hasil akhirnya adalah dua sel anak yang bersifat haploid (n), karena setiap sel hanya membawa satu dari sepasang kromosom homolog.
- Profase I (Terdiri dari 5 Sub-fase Krusial)
- Meiosis II (Pemisahan Kromatid Saudara)
- Tahapan pada Meiosis II secara mekanis sangat mirip dengan Mitosis biasa, namun terjadi pada sel yang sudah berstatus haploid (n).
- Profase II: Benang spindel terbentuk kembali di kedua sel anak haploid, membran inti hancur lagi. Tidak ada replikasi DNA sebelum tahap ini (interkinesis singkat).
- Metafase II: Kromosom (masing-masing terdiri dari dua kromatid) berjajar tunggal di bidang ekuator.
- Anafase II: Sentromer membelah, kromatid saudara terpisah dan ditarik menuju kutub yang berlawanan oleh benang spindel.
- Telofase II & Sitokinesis II: Nukleus terbentuk kembali, sitoplasma membelah. Hasil akhirnya adalah empat sel anak haploid (n) yang masing-masing memiliki kombinasi genetik unik.
- Tahapan pada Meiosis II secara mekanis sangat mirip dengan Mitosis biasa, namun terjadi pada sel yang sudah berstatus haploid (n).
- Meiosis I (Pemisahan Kromosom Homolog)
4. Tabel Perbandingan: Mitosis vs Meiosis
| Karakteristik | Mitosis | Meiosis |
| Lokasi Terjadi | Sel somatis (sel tubuh seperti sel kulit, akar, daun). | Sel gonad/sel kelamin (testis, ovarium, anthera). |
| Jumlah Pembelahan | Hanya 1 kali pembelahan. | 2 kali pembelahan (Meiosis I dan II). |
| Jumlah Sel Anak | 2 sel anak. | 4 sel anak. |
| Sifat Kromosom Anak | Diploid (2n) jika induk 2n, identik dengan induk. | Haploid (n), berbeda secara genetik karena crossing over. |
| Kromosom Homolog | Tidak pernah berpasangan atau membentuk sinapsis. | Berpasangan membentuk tetrad selama Profase I. |
| Pindah Silang | Tidak terjadi. | Terjadi paca sub-fase Diploten (Profase I). |
| Fungsi Utama | Pertumbuhan, perbaikan jaringan, reproduksi aseksual. | Pembentukan gamet, mempertahankan jumlah kromosom spesies. |






