Paradigma sains kelak akan bergeser, terlalu banyak mengingat teori akan mengurangi efektivitas belajar. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena ilmu pengetahuan senantiasa berkembang. Label bodoh pada anak yang biasa melekat sudah banyak mengalami perombakan definisi. Karena tidak ada anak yang bodoh, yang ada anak yang malas. Begitu kata ahli pendidikan.

Zaman dahulu bisa menghitung operasi perhitungan dalam jumlah banyak adalah cerdas, tak bisa menghitung banyak banyak dianggap bodoh. Kalkulator pun diciptakan, dan bisa membantu menyamakan kemampuan berhitung. Yang penting faham konsep perhitungannya. Karena bisa jadi yang tidak bisa menghitung banyak itu bukan karena bodoh, hanya malas saja.

Zaman dahulu orang yang hafal jalan di puji puji, tak hafal rute jalan di rendahkan lalu munculah google maps, bisa deteksi macet,  rute tercepat, info kecelakaan, penutupan jalan dan sebagainya (meskipun ada yang bikin jebur ke kali juga), orang hafal jalan bisa terjebak macet, pegang google maps justru bisa lebih efektif dalam perjalanan. Karena bisa jadi yang tak hafal rute jalan itu bukan karena bodoh, hanya malas saja.

Tapi kan itu pakai gadget!? Alat bantu dan sebagainya tidak murni. Bukan penggunaannya yang saya sorot, melainkan kecerdasan untuk melahirkan kalkulator dan google maps, inspirasi nya, serta pemikirannya bisa sampai harus ada benda ini. Nah itu spasi kecerdasan nya. Pastinya orang yang ciptakan kalkulator sudah memikirkan saya malas menghitung maka harus ada tools untuk mengatasi kemalasan saya, saya malas menghafal rute jalan, maka harus ada tools untuk memetakan semua rute jalan di kota saya. Kemalasan yang inspiratif dan melahirkan inovasi besar dalam peradaban manusia.

Dulu saya pernah punya siswa malas sekali menulis, dia sudah pasrah karena tulisannya memang jelek. Siswa itu bilang ke saya, “Pak guru, saya pun nulis sama saja, beres nulis saya tak bisa baca tulisan saya, bagaimana saya mau memahami pelajaran, tapi kalau tak saya tulis saya akan mudah lupa.” Ya akhirnya saya ampuni catatan nya yang kosong, solusi nya fotokopi catatan temanmu yang bagus dan fahami isinya, kalau saya tanya harus bisa jawab. Dia patuh dan nilainya bagus. Saya memberikan motivasi, “Mau tulisanmu jelek pun tetaplah rajin belajar, rajin membaca, dan jangan lelah memahami, nanti kalau kau pandai kau bikin alat yang bisa mengubah ucapan menjadi tulisan bagus dan harganya terjangkau sehingga semua orang yang senasib denganmu bisa beli itu.” “Baik pak!!” Ucapnya dengan semangat berkobar kobar.

Sepuluh tahun kemudian kita merasakan hadirnya handphone yang bisa mengubah suara kita menjadi teks, dan bisa disimpan, diarsipkan, di edit, bahkan dikirim ke orang lain.  Anda tau siapa yang ciptakan? Yang jelas saya pun belum mencari tau dan pasti juga bukan murid saya karena saat ini dia  masih kuliah. Itulah sains, senantiasa berkembang seiring sejalan riset dan invention teknologi baru.

Saya pun kadang melakukan ujian untuk siswa secara open book, kerja kelompok, diskusi, dan sedikit sekali siswa dibebankan harus hafal mati teori mata pelajaran yang saya ampu. Karena mereka tak hanya belajar satu pelajaran saja. Aspek pemahaman dan aplikasi harus lebih intens kita sentuh, karena pemahaman lebih mudah diaplikasikan ketimbang sekedar hafalan. Dan aplikasi adalah tingkatan kognitif yang lebih tinggi ketimbang menghafal. Soal ujian pun diarahkan ke soal-soal HOTS, sehingga membutuhkan lebih banyak penguasaan materi ketimbang sekedar menghafal deretan kata. Dikerjakan sambil buka buku pun silahkan, karena yang digali bukan hanya definisi-definisi sederhana melainkan benar-benar konsep yang membutuhkan analisis dalam bentuk tingkatan berpikir lebih kompleks.

Ketika siswa belajar biologi pada materi pencemaran lingkungan misal, tak harus siswa hafal jenis-jenis sampah, definisinya, dampaknya dan lama terurainya hingga detail dan sama seperti isi buku atau sumber belajar. Namun anak harus faham bahwa untuk sampah yang sulit terurai harus di-reduce dalam penggunaannya, di-reuse kalau masih bisa dimanfaatkan lebih dalam banyak hal, dalam di-recycle untuk menjadi barang lain. Sampah yang mudah terurai bisa ditingkatkan kebermanfaatannya misal dengan mengolah sisa makanan untuk pupuk. Penekanan lebihnya adalah siswa bisa menerapkan ilmu dan punya kontribusi terhadap lingkungan bukan sekedar di kepala saja. Kita akan menilai lebih kognitif siswa manakala mereka membuang sampah pada tempatnya, membuat poster dan media lain untuk mengajak masyarakat menjaga lingkungan, menerapkan praktik reduce, reuse, recycle dalam kehidupan dan bukan sekedar hafal saja. Bisa jadi siswa-siswi kita menghafal seluruh materi pelajaran sehingga nilai test pilihan gandanya tinggi, nilai test uraiannya bagus pada materi pencemaran lingkungan semisal namun ternyata membuang sampah masih sembarangan maka ini sama saja dengan kegagalan pendidikan. Sama halnya dengan label bungkus rokok dimana banyak orang pasti bisa membaca rokok itu berbahaya dari peringatan yang dituliskan pada bungkusnya, namun level kognitif nya tidak sampai ke aplikasi, hanya dibaca saja dan saya yakin para perokok pun hafal resiko merokok namun tetap saja merokok.

Oleh karena itu dalam memberikan penilaian, instrument evaluasi yang digunakan tidak harus yang menunjukkan siswa hafal atau tidak dalam materi pembelajaran. Namun juga harus dinilai pemahaman siswa dalam materi tersebut, bagaimana siswa mengaplikasikannya, bagaimana siswa menganalisis menggunakan pola berpikir kritisnya pada kehidupan sehari-hari, bagaimana siswa dapat beraksi menciptakan kebiasaan baik hingga produk tepat guna yang bermanfaat, serta bagaimana siswa menilai dirinya sendiri apakah sudah mampu menerapkan kompetensi yang dipelajarinya dalam keseharian. Guru harus dapat memberikan apresiasi dan penilaian bagi beragam tingkatan kognitif dan siswa yang punya nilai lebih dalam kebiasaan-kebiasaan baik, bakat dan inovasi, pemikiran yang kritis, kreativitas, serta budaya kolaborasi bisa mendapatkan penilaian lebih dan tak hanya memunculkan siswa-siswi yang mampu hafal saja. Karena bisa jadi semua siswa hafal namun tujuan pembelajaran tetap tidak tercapai dan kompetensi yang hendak dicapai tidak terbentuk.

Jadikan belajar lebih menyenangkan, tak hanya bagi siswa yang memiliki daya ingat tinggi maupun rendah. Karena daya ingat yang kuat hanya salah satu dari aspek kecerdasan yang tentunya tidak dimiliki oleh semua siswa. Jadikan pembelajaran dengan semangat kolaboratif, sehingga yang mudah hafal bisa diberi ruang luas untuk memberikan kontribusi hafalannya, yang tidak mudah hafal bisa berkontribusi di bidang lain yang mendukung keberhasilan sebuah proyek pembelajaran. Dengan satu tujuan semua siswa harus belajar, baik yang hafalannya bagus maupun yang hafalannya kurang bagus. Dikarenakan masih banyak aspek kecerdasan yang bisa kita jadikan penilaian selain kemampuan menghafal. Sehingga belajar bukan hanya bersandar pada hafal saja melainkan juga sensasi “kemerdekaan belajar” bisa menerapkan berbagai spasi kecerdasan yang lain dan mendapat apresiasi yang sama tingginya dalam pembelajaran.

#Belajar_Itu_Memang_Asyik

Share:
belajar asyik

Bima Ariyo

Seorang Guru, Desainer, Motivator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *