Dulu SMP Pernah ikut Olimpiade IPA, yang jelas yang mengadakan dari dinas pendidikan. Seleksi di Kab/Kota lolos dapat juara 2, lanjut ke tingkat provinsi.
Di provinsi yang juara 1 kab/kota Bekasi tumbang duluan di babak 1 dan saya bisa lanjut ke babak 3 (final). Sudah melalui beraneka ragam test mulai dari test tulis, test lisan, sampai adu cepat tepat.
Alhamdulillah bisa juara 2 tingkat provinsi. Padahal peluang saya kecil. Buku paket aja Ndak punya cuma modal LKS, tapi ada anak Al Azhar buku nya sekoper bagus bagus dan saya pinjam baca yang dia gak lagi baca. Mulai dari champbell sampai ganong. Sampai sangking tak terlalu diharapkan dan diprediksi menang saya jadi siswa utusan kab/kota yang tidak ditemani guru sekolahnya. Hanya dititipkan ke guru yang jadi koordinator kab/kota.
Yang paling menyedihkan adalah:
1. Karena 1 kab/kota yang saya wakili berguguran, ketua rombongan yang nota bene adalah guru sekolah yang paling banyak lolos / juara di tingkat kab/kota ternyata sudah pulang duluan. Padahal itu di Bandung yang mana baru sekali-kalinya saya ke sana.
2. Waktu diumumkan di depan panggung perwakilan Pemda saya Ndak ada. Dan saya maju sendiri ke depan, senang campur haru mixing panik. Alhamdulillah menang juara 2 provinsi, tapi pulangnya gimana nasib saya.
3. Dapat piala, piagam, plus hadiah uang tunai kalau ga salah. Uang tunainya dalam bentuk tulisan gabus. Karena Ndak ada perwakilan sekolah maupun kab/kota katanya nanti disusulkan piagam dan uang tunainya. Yang dibawa sekarang pialanya dulu.
4. Saya pun pulang terkatung katung. Alhamdulillah di tengah bingung ada orang pemprov pulang dinas habis rapim mau ke Bekasi ya udah nebeng di kursi belakang bareng barang barang yang dibawa (dalam kardus kardus), meringkuk meluk piala, 6 jam perjalanan Bandung Bekasi via Purwakarta (dulu belum ada Cipularang)
5. Sampai Bekasi jam 2 pagi. Berhubung pegawai Pemprov nya mau pulang saya diturunkan di depan UNISMA. Dikasih ongkos buat naik taksi. Lalu di tinggal. Ada taksi ga? Ya gak ada. Jaman kegelapan kayak gitu belum ada handphone apalagi aplikasi ojol. Saya jalan kaki sampai terminal Bekasi. Kelas 3 SMP gaes jam 2 pagi. Makasih tumpangannya pak pejabat Pemprov. Tanpamu aku jadi gelandangan bawa piala di Bandung.
6. Sampai terminal Bekasi dikejar bencong, lari bawa piala Segede apa tau. Alhamdulillah di tolong sopir taksi, dianterin sampai rumah katanya dia punya anak kayak saya dulu sering juara dan udah kuliah. Saya nangis. Rumah petak saya cuma 18 meter persegi, lantai ubin, pager bambu, gaji bapak 50 ribu s.d. 80 ribu sebulan (yang mana cicilan KPR udah 55 ribu dan saya makan dari dagang bakwan keliling SD di Bekasi). Moga moga saya bisa kuliah kelak. Makasih pak sopir taksi. Jasamu tiada Tara.
7. Sampai rumah bapak ibu saya nangis. Bapak ibu belum tidur. Ibu khawatir dengan kondisi saya, seharian keliling rumah guru guru saya di SMP katanya saya dititipin orang kabupaten dan gak bisa di telp (sudah bolak balik wartel tulalit terus). Dan orang sekolah ga tau gimana posisi saya apalagi pas tau orang yang dititipkan dah pulang sampai Bekasi jam 8 an malam. Alasan karena anak didiknya dah kalah semua. Panitia disdik pemprov ga ada kontak person. Ayah saya sepedaan keliling UNISMA, SLTPN 2 (kali malang), terminal bekasi, bulak kapal, sampai stasiun tambun khawatir saya diturunkan di tengah jalan. Sampai jam 1 pagi dari jam 8 malam. Dari jam 1 pagi sampai jam 2 malam tidur di pos satpam SLTPN 2 Bekasi. Ya Allah bapak. Akhirnya bapak jam 2 malam pulang naik sepeda reotnya, sampai rumah sama ibu tahajjud sambil tangis membasahi mata, sedih mereka anaknya tiada jejak. Di belahan dunia lain pada waktu yang sama seorang sopir taksi menyelamatkan saya dari kejaran bencong. Itulah resonansi doa, Allah itu senantiasa hadir untuk mengijabah doa hamba hambanya.
8. Udah belasan tahun berlalu, itu piagam dan uang tunai gak pernah ada kabar. Ga pernah sampai ke tangan saya. Dan fotonya pun Ndak pernah saya punya. Yang penting saya dah di foto di Bandung aja, suatu saat kalau saya jadi kepala disdik Jabar atau mendiknas kali aja ga sengaja ketemu. Piala saya kasih ke sekolah sebelum saya lulus SLTP. Itu jadi kenangan manis saya buat guru guru saya tercinta di SLTP N 11 Bekasi. Terima kasih guru guruku atas dukungan dan doanya senantiasa.
Sekarang saya jadi guru. Makanya kalau punya murid mau ikut lomba saya seneng banget, jadi inget saya masa kecil, kalau sekolah ga ada uang saya ongkosin pakai uang saya. Walaupun tau peluang menang kadang kecil tetap saya temenin semampu saya. Atau minimal saya utus staf guru/pelatih ekskul. Kalau ada rejeki banyak beres lomba saya traktir makan. Kalau menang hadiahnya saya tambahin. Biar mereka ga kayak saya nasibnya. Minimal kenangannya lebih indah.
Punya kisah hidup gini amat, ya saya gak tau yang baca ini malah ketawa guling-guling atau menangis haru. Yang jelas hidup ini sarat pengalaman berharga. Alhamdulillah dari menang lomba tersebut saya terpilih jadi siswa berprestasi di sekolah. Bahkan ketiban rejeki lebih banyak lagi, yaitu masuk SMA Plus Pemda Provinsi Jawa Barat yang mana telah menjadikan saya akhirnya bisa sekolah SMA. Bisa lulus dan lanjut kuliah, bisa sampai seperti sekarang ini. Semua ada jalannya. Allah yang atur. Do’a tak pernah tertukar, usaha selalu berbuah manis. Yang penting kita tawakal. Dan masa depan kita sudah disusun sedemikian rupa.
Share:
belajar asyik

Bima Ariyo

Seorang Guru, Desainer, Motivator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *