Ada apa dengan Seri Guru Belajar Pembelajaran Tatap Muka Terbatas?

Sobat sains semua, hampir satu tahun lebih Pandemi Covid-19 menjadi penyebab sekolah se-Indonesia ditutup. Terhitung mulai dari bulan Maret 2020 melalui Surat Edaran Mendikbud tanggal 17 Maret 2020 proses pembelajaran yang diselenggarakan dari rumah menggunakan berbagai sarana pembelajaran daring. Semua upaya dilakukan untuk menjamin bahwa guru dan siswa-siswi tetap sehat dalam kemelut pandemi Covid-19 yang tak kunjung reda. Hal ini dilakukan pula untuk memastikan bahwa segala aktivitas pembelajaran berpusat dirumah, tingkat mobilisasi masyarakat menurun, dan persebaran Covid-19 dapat diturunkan intensitasnya.

Dalam pembelajaran era pandemi, proses pembelajaran umumnya bergantung pada perangkat pembelajaran daring dan ketersediaan sinyal internet. Kelemahan pembelajaran ini adalah dimana saat sinyal internet minim atau perangkat pembelajaran (ponsel pintar) siswa tidak dapat mengakses konten pembelajaran yang disediakan oleh guru, maupun untuk mengakses pembelajaran tersinkron melalui aplikasi tatap muka berbasis daring. Faktor lain seperti ketidakmampuan guru mengelola pembelajaran daring, serta ketiadaan fasilitas yang mumpuni bagi guru untuk mengelola pembelajaran daring, berkontribusi besar terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran apabila dilaksanakan secara daring. Dan tak lupa faktor keterlibatan orang tua membersamai putra putrinya belajar daring yang masih sangat minim dan membutuhkan banyak adaptasi menjadikan pembelajaran daring berakhir keluh kesah serta sumpah serapah.

Dari berbagai telaah terhadap pembelajaran daring yang sudah dilaksanakan setahun belakangan ini memiliki berbagai problematika diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Ketimpangan pencapaian kompetensi siswa

Pencapaian kompetensi yang timpang dikarenakan banyak siswa yang tidak dapat beradaptasi dengan cepat manakala pembelajaran daring digelar. Perangkat pendukung yang berbeda-beda kadang mengakibatkan learning loss pada sejumlah siswa yang terkendala semisal dikarenakan tidak memiliki koneksi internet yang baik dan juga keterbatasan dana untuk hal itu. Belum lagi ketersediaan gadget yang mumpuni untuk melaksanakan berbagai metode pembelajaran daring, dan juga kadang jumlah gadget yang ada pada setiap rumah belum tentu sama dengan jumlah anggota keluarga.

Pemerintah memang sudah memfasilitasi untuk kuota pembelajaran, namun nominalnya masih belum memadai untuk mendukung sepenuhnya pembelajaran daring dalam satu bulan. Belum lagi jika guru-guru menggunakan aplikasi pembelajaran daring yang menyerap banyak kuota seperti zoom, gmeet, you tube dan lain sebagainya. Adapula yang dalam satu keluarga hanya punya satu ponsel yang mana digunakan ayahnya untuk bekerja (semisal ojek online, atau pekerjaan lainnya yang senantiasa membutuhkan ponsel), pastinya hal ini sangat berimbas pada keberhasilan siswa dalam belajar daring, bahkan terkadang yang ayah ibunya sudah memiliki ponsel jika memiliki tiga anak yang aktif bersekolah ini pun masih akan terkendala. Dan hasilnya pastinya akan berbeda jauh dengan yang satu siswa memiliki satu perangkat untuk mendukung pembelajaran berikut akses koneksi internet yang kencang. Bisa jadi anak yang terkendala dalam perangkat ini sesungguhnya memiliki bakat dan kemampuan belajar yang tinggi manakala dibekali dengan perangkat lengkap, namun dikarenakan perangkat terbatas maka teridentifikasi mengalami learning loss selama pandemi serta tidak optimal dalam pencapaian kompetensi.

2. Gangguan kesehatan bagi siswa dan guru

Berdekatan dengan ponsel dan perangkat elektronik sepanjang hari pastinya akan memiliki imbas bagi kesehatan. Khususnya bagi siswa-siswi yang masih dalam proses perkembangan. Organ seperti mata yang berpotensi terkena miopi, gangguan otak akibat radiasi ponsel, hingga gangguan motorik karena harus duduk berjam-jam untuk belajar daring seraya menatap layar dengan posisi yang monoton.

Hal ini pun berpotensi terjadi pada guru yang mana harus melakukan perencanaan pembelajaran, persiapan berbagai perangkat dan aplikasi pembelajaran daring, melaksanakan pembelajaran daring, mempersiapkan evaluasi pembelajaran daring, hingga melakukan refleksi dan penilaian. Pada dasarnya beban guru bertambah berlipat-lipat, belum terhitung jika ternyata guru masih dalam proses belajar bagaimana mengelola pembelajaran daring. Sebagaimana kita ketahui rasio guru dan siswa di Indonesia belum ideal. Pembelajaran daring bisa jadi ideal bagi guru manakala guru mata pelajaran jenjang SMA misal hanya mengajar 1 s.d. 5 kelas. Namun jika guru mengajar banyak kelas misal hingga 15 kelas kondisinya pasti akan berbeda. Berusaha menjadi guru ideal berimbas menyiksa diri, berusaha abai terhadap proses pembelajaran maka akan dianggap guru yang tidak memenuhi tanggung jawab.

3. Gangguan mental, sikap sosial, dan sikap indisipliner

Hal ini yang menjadi bahaya laten dikemudian hari. Nampak senyap, namun bisa menimbulkan ledakan masalah pada saat kondisi normal dan tatap muka sudah berjalan. Perubahan adaptasi setiap siswa dari pembelajaran tatap muka ke pembelajaran daring tidak semua sama. Ada sebagian siswa yang tidak mampu beradaptasi sehingga mengalami gangguan mental yang nantinya akan menimbulkan keengganan untuk belajar. Ketiadaan sosok guru yang hadir secara fisik tentunya akan berimbas jauh pada perkembangan mental siswa karena tidak semua siswa mampu belajar dengan guru yang hanya memposisikan diri dengan jarak jauh serta tidak bisa hadir di dekat mereka. Idealnya pembelajaran daring memposisikan orang tua untuk mendampingi siswa dalam proses pembelajaran sebagaimana guru mendampingi mereka di sekolah. 



Namun kenyataannya? Orang tua pastinya disibukkan dengan rutinitas pekerjaan dikarenakan dari segmen pekerjaan dan aktivitas publik negara kita sudah masuk era new normal, hanya pembelajaran saja yang masih daring. Ketiadaan sosok guru dan orang tua disisi peserta didik dalam menjalani pembelajaran daring menjadikan pembelajaran daring jauh dari harapan. Karena pembelajaran daring yang berlangsung secara mandiri tanpa kehadiran orang tua dan guru aslinya merupakan pembelajaran bagi orang dewasa, bukan untuk anak-anak usia sekolah.

Sikap indisipliner dan antisosial juga bisa berkembang selama pembelajaran daring. Hal ini diakibatkan guru tak memiliki keleluasaan untuk menerapkan disiplin yang setara pada semua siswa dikarenakan proses pembelajaran berlangsung di rumah masing-masing dan menjadi tanggungjawab orang tua yang umumnya juga kewalahan untuk hal tersebut. Akan kita jumpai anak-anak yang sulit untuk bangun pagi dan kerapkali begadang di malam hari dengan alasan belajar daring, meskipun kenyataanya adalah mengakses hiburan (film, game online, media sosial yang tidak berimbas pada pembelajaran, dan lain-lain). 

Sikap enggan bergaul dan terlalu banyak mengakses dunia maya berbahaya dalam pembentukkan sikap sosial anak. Namun ada pula yang di era pandemi justru berlebihan aktivitas luar rumahnya dan mengabaikan pembelajaran daring dengan alasan bosan atau jenuh. Kegiatan luar rumah yang tidak terkontrol juga akan sangat berimbas pada perkembangan mental siswa karena lingkup pergaulannya tidak terukur dan cenderung ke arah yang negatif. Bisa kita jumpai dari cafe, tempat nongkrong, pusat keramaian yang dipenuhi anak-anak usia sekolah sejak sore hingga pagi di era pandemi ini, bahkan hal itu kadang lolos dari perhatian pemerintah daerah.

Hal-hal yang diuraikan diatas dikhawatirkan akan berimbas saat sudah memasuki tatap muka. Banyak anak yang antisosial karena tidak terbiasa berkomunikasi, ada yang kesulitan menata perilaku dikarenakan pergaulannya tidak terkondisikan dengan baik, dan sulit menerapkan disiplin dikarenakan selama pandemi ini, orang tua siswa tidak menerapkan disiplin di rumah. Dan sekolah pun harus menyiapkan choaching clinic untuk menguraikan berbagai permasalahan yang muncul baik terkait gangguan mental, sikap sosial, maupun sikap indisipliner. Dan ini masih menjadi PR besar bagi setiap sekolah.

Sebenarnya masih banyak lagi problematika yang muncul akibat pembelajaran daring selama pandemi Covid-19 ini. Maka dari itu munculah inisiatif untuk menyegerakan pembelajaran tatap muka meskipun dalam kondisi terbatas. Harapannya dapat menguraikan berbagai permasalahan yang sudah muncul dan memperbaikinya sedikit demi sedikit. Banyak tugas besar kita yang memegang peranan dalam bidang pendidikan untuk menyiapkan pembelajaran tatap muka ini mulai dari:

1. Kesiapan sarana sekolah yang mendukung protokol kesehatan serta penerapannya dari segi ketersediaan, cara penggunaan, hingga proses perawatan.

2. Kesiapan pemahaman sekolah sehat oleh siswa, guru, dan segenap warga sekolah untu kemudian bersama-sama menerapkan protokol kesehatan dalam kegiatan pembelajaran.

3. Kesiapan orang tua untuk aktif berkomunikasi setiap waktu terkait kondisi siswa, keluarga siswa, dan juga mempersiapkan berbagai kebutuhan protokol kesehatan saat siswa akan berangkat ke sekolah.

4. Kesiapan mengelola berbagai alternatif pembelajaran era pandemi, blended learning antara tatap muka terbatas dengan pembelajaran daring baik secara syncronous maupun asyncronous.

5. Kesiapan melakukan coaching clinic terhadap berbagai permasalahan yang nantinya akan muncul akibat lamanya proses pembelajaran daring dan selama pelaksanaan tatap muka terbatas.

6. Kesiapan tanggap bencana dan tanggap resiko yang harus menjadi tanggungjawab semua elemen, baik itu segenap warga sekolah dalam lingkup pertanggungjawaban kepala sekolah, dinas terkait diatasnya, dan juga para pemangku jabatan di wilayah dimana sekolah itu berada.

Dalam hal ini PPPPTK IPA Kemendikbud menyelenggarakan “Seri Webinar Guru Belajar, Pembelajaran Tatap Muka Terbatas” untuk memfasilitasi semua elemen masyarakat khususnya yang berhubungan dengan pendidikan dalam menyukseskan kesiapan Indonesia dalam menyongsong pembelajaran tatap muka terbatas. 

Untuk informasi lebih lengkap dapat diakses pada laman
Instagram: INSTAGRAM P4TK IPA KEMENDIKBUD (Klik dan follow ya!)
Youtube: 
YOUTUBE P4TK IPA KEMENDIKBUD (Klik dan subscribe ya!)

Akan ada banyak pembelajaran bagi setiap sekolah untuk persiapan pelaksanaan tatap muka terbatas mulai dari konsep, prinsip, hingga best practice yang mendukung keberhasilan pembelajaran tatap muka terbatas. Untuk masa depan Indonesia lebih baik, dalam upaya mengurangi potensi learning loss yang akan berimbas pada lost generation jika pembelajaran daring tanpa tatap muka berlangsung terus menerus. Ayo ikuti semua seri belajarnya dan persiapkan pembelajaran tatap muka di sekolah kita.

Salam P4TK IPA: Integritas, Peduli, Amanah! 

SERI PODCAST GURU BERBAGI
PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS
EDISI PERTAMA

SERI PODCAST GURU BERBAGI
PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS
EDISI KEDUA





SERI WEBINAR GURU BELAJAR

PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS
EDISI PERTAMA
Jumat, 4 Juni 2021





SERI WEBINAR GURU BELAJAR

PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS
EDISI KEDUA
Edisi Jumat, 11 Juni 2021






SERI WEBINAR GURU BELAJAR
PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS
EDISI KETIGA
Edisi Jumat, 18 Juni 2021




SERI WEBINAR GURU BELAJAR
PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS
EDISI KEEMPAT
Edisi Jumat, 25 Juni 2021




Untuk pedoman penyelenggaraan 
Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Era Pandemi
Silahkan mengakses link berikut
PEDOMAN PEMBELAJARAN ERA PANDEMI 2021


VIDEO SIMULASI PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS
DALAM UPAYA PENERAPAN BLENDED LEARNING
DI ERA PANDEMI COVID-19
  

SMAN 8 TAMBUN SELATAN
CADISDIK WIL III DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA BARAT

silahkan untuk subscribe, like, comment, & share

terima kasih semuanya
Semoga sehat selalu

Share:
belajar asyik

Bima Ariyo

Seorang Guru, Desainer, Motivator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *