Bagaimana kinerja virus Corona penyebab Covid-19? Hingga bisa mengakibatkan sesak nafas dan sampai banyak yang membutuhkan oksigen? Kemudian bagaimana hubungan antara sistem imunitas kita dan kerjanya dalam membasmi virus Covid 19? Serta bagaimana mekanisme vaksin menjadi pendukung untuk mengamankan kita dari infeksi Covid-10? Yuk kita kaji disini bersama-sama.

Tiga pekan ini keluarga saya dihajar oleh badai Covid-19. Semua terinfeksi, Saya dan istri yang sedang hamil, Ayah yang punya komorbid diabetes melitus, dan Ibunda tercinta yang juga memiliki komorbid hipertensi. Serta adik adik yang usianya masih dibawah 30 tahun. Sebuah pengalaman yang sangat berharga yang ingin saya bagikan disini.

Covid-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi coronavirus SARS-CoV-2. Istilah Corona merujuk pada morfologi virus yang memiliki bentuk seperti mahkota. Jadi sebenarnya virus yang berbentuk corona ini tak hanya virus Covid-19, virus flu (flu biasa, flu burung, flu babi, flu singapura, flu spanyol, dan virus flu yang lainnya yang sudah ada sejak zaman dahulu kala) umumnya berbentuk Corona. Namun dari segi fatal atau tidaknya infeksi berbeda-beda.


(Note: Jadi kalau ada yang bilang virus corona itu sudah ada dari dulu memang benar, tapi maksudnya itu virus yang memiliki morfologi berbentuk corona, karena hampir semua virus flu bentuknya mirip. Tentang Covid-19 ini merupakan hasil mutasi yang baru dan ada saat ini. Jika ada yang mengatakan Virus Covid-19 sudah ada dari dulu itu konsepnya kurang tepat. Yang dulu menginfeksi bukan Covid-19 namun virus lain yang identik dengan itu)







Penyakit ini (Covid-19) dapat menimbulkan gejala seperti demam, sakit tenggorokan, batuk pilek, gangguan penciuman, sampai sesak napas, atau bahkan tidak bergejala sama sekali. Pada populasi sehat, apabila seseorang terkena infeksi penyakit ini, sebagian besar akan mengalami infeksi yang bersifat ringan, namun pada populasi tertentu (lansia, orang dengan penyakit kronis/komorbid, penyakit pada sistem imun, ibu hamil), infeksi yang dialami dapat bersifat berat di mana virus ini sudah menyerang paru-paru dan menyebabkan pneumonia.

(Note: Ada orang yang berpendapat virus covid ini seperti virus flu biasa, benar jikalau daya tahannya kuat, imunitasnya bagus, tak punya komorbid, karena infeksinya baru sampai hidung atau tenggorokan sudah diatasi oleh tubuh yang sehat. Tapi bagi yang berbeda (lansia, orang dengan penyakit kronis/komorbid, penyakit pada sistem imun, ibu hamil) ya bisa jadi virusnya merembet sampai ke paru-paru dan beresiko sesak hingga kematian)



Ketika virus masuk ke dalam tubuh, virus akan mengalami kontak dengan membran mukosa pada hidung, mulut, dan mata Anda. Virus tersebut akan masuk ke sel-sel yang sehat dan memanipulasi sel tersebut untuk menghasilkan partikel virus yang baru yang dapat bermultiplikasi dan menyerang sel-sel di sekitarnya. Virus ini dapat menyerang saluran napas atas (hidung, mulut, tenggorokan) sampai ke saluran napas bawah (paru-paru). Pada kasus yang berat, infeksi ini dapat ‘turun’ sampai ke alveoli paru-paru dan menyebabkan pneumonia.

Masa inkubasi virus tersebut mulai dari kontak dengan penderita covid-19 sampai munculnya gejala atau terdeteksinya virus (pada orang tidak bergejala) pada saluran napas bekisar 2-14 hari. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, seseorang yang mengalami infeksi covid-19 belum tentu pasti akan mengalami kerusakan paru-paru seperti pada pneumonia, sehingga ‘perjalanan’ infeksi virus tersebut sampai ke saluran napas bawah pun masih belum dapat disimpulkan secara pasti. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari usia, jenis kelamin, penyakit penyerta, merokok, dan lainnya. Namun jika sudah sampai ke paru-paru inilah dimana virus Covid menjadi sangat berbahaya dan harus benar-benar diwaspadai.

(Note: Selain itu yang berbahaya apabila terkena Covid-19 tapi tidak bergejala, mereka hanya merasa demam meriang sedikit anosmia seperti flu biasa. Kurang waspada dan tidak menjaga diri dapat menyebabkan penularan ke orang lain. Penularan terjadi sangat berantai hingga sampai kepada orang-orang yang beresiko tinggi terkena Covid-19 dengan kondisi yang parah)


SERANGAN COVID PADA PARU-PARU KITA

Saat Covid sudah sampai ke paru-paru maka bisa di deteksi dari hasil rontgen yang menunjukkan kabut di sekitar paru-paru.


Gbr 3. sumber: kumparan.com


Warna putih pada paru-paru menandakan kantong udara (alveolus) yang sudah rusak dan terisi cairan akibat infeksi Covid-19. Akibatnya mengganggu pertukaran oksigen dan karbondioksida jadi terhalang oleh cairan tersebut. Otak akan memaksa sistem pernafasan bekerja ekstra. Dada akan kembang kempis lebih cepat untuk memasukkan oksigen ke dalam tubuh dengan jumlah yang sesuai minimal kebutuhan sel-sel tubuh. Inilah yang dirasakan oleh penderita Covid: sesak, nyeri di dada, dan bahkan menyebabkan pegal-pegal di sekujur tubuh. Bahkan hingga membutuhkan oksigen tambahan baik dari tabung maupun oksigen portabel saat darurat dan tidak mendapatkan akses tabung oksigen.


Gbr 4 & 5. Menggunakan oksigen tabung (sumber: Tribun) dan 
oksigen portabel untuk darurat (sumber: antara)


RESPON BATUK PENDERITA COVID

Peningkatan sejumlah virus yang menginfeksi paru-paru akan memicu respon batuk. Sel epitel yang terinfeksi pertama kali akan mengorbankan dirinya untuk menginformasikan sistem imunitas tubuh tentang bahaya yang cukup serius dari infeksi Covid-19 ini. Otak memantau peristiwa ini dan akan menginstruksikan sistem pernafasan untuk mengeluarkan virus. Yang terjadi kemudian adalah batuk. Batuk merupakan mekanisme mengeluarkan virus dari dalam tubuh. Pada kondisi ini pasien akan batuk-batuk kering.


Batuk kering ini jika disertai tidak taat menggunakan masker akan dengan mudah menulari sekitarnya, khususnya keluarga (orang yang terdekat akan merawat pasien pertama), tetangga dan orang yang kontak erat, dan juga tenaga kesehatan yang akan jadi sasaran pertama pasien jika hendak berobat terkait dengan batuknya. Inilah yang akan menyebabkan virus menyebar pesat. Menimbulkan cluster keluarga (saat penderita batuk di rumah dan tidak menggunakan masker), cluster tempat kerja, tempat pergaulan, lokasi makan minum, saran umum tempat berkumpul dan transportasi umum (manakala batuk-batuk tetap beraktivitas normal), dan juga cluster pusat pengobatan (klinik, Puskesmas, Rumah Sakit) jika pasien tak jujur dan tak mau memakai masker.


RESPON SISTEM IMUN PADA PARU-PARU PENDERITA COVID

Sel alveolus (Type II cells) pada paru-paru kita yang melihat terjadinya infeksi dan kematian sel akibat Covid akan memanggil makrofag. Apa sih makrofag itu? Makrofag adalah sel fagosit terpenting dalam sistem imun yang berasal dari sel monosit dewasa yang menetap di jaringan. Sel Fagosit berarti sel yang bertujuan untuk menemukan, menelan dan menghancurkan patogen dan sel apoptosis (sel yang mati secara terprogram).

Makrofag memiliki dua fungsi utama yaitu menghancurkan antigen dan menyajikannya kepada limfosit T karena memiliki Antigen Presenting Cell (APC). Ibaratnya makrofag ini tentaranya tubuh dalam melawan Covid. Jeng..jeng..jeng…makrofag datang!!!


Gbr 6. Makrofag sedang memangsa patogen (sumber: https://www.minutobiologico.com/)


Tapi yang namanya tentara mau berperang pastinya tidak sendirian. Makrofag ini akan memanggil teman-temannya menggunakan sinyal yang disebut sitokin. Sitokin ini adalah protein khusus pembawa pesan yang bertujuan mengarahkan tentara tubuh (sistem imunitas) untuk membasmi patogen. Tindakan ini memicu vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah). Tujuannya adalah membawa lebih banyak darah (khususnya sel darah putih dan turunannya yang berperan sebagai sistem imunitas tubuh) untuk membasmi si virus di paru-paru khususnya pada bagian alveolus yang terinfeksi. Makin banyak tentara yang berperan konsepnya makin mudah virus dikalahkan, tapi tak begitu jika ternyata virus nya juga banyak. Apalagi virus memiliki beragam cara untuk menghacking sistem imunitas kita. Luar biasa peperangan ini. Dimana-mana yang namanya perang menang jadi arang kalah jadi abu, dan lokasi perang pastinya akan porak poranda. Itulah yang terjadi pada paru-paru pengidap Covid.

Gbr 7. Neutrofil (sumber: depositphotos)


Pasukan imun berkumpul di area infeksi virus. Diantaranya adalah Neutrofil. Neutrofil adalah jenis sel darah putih yang paling banyak dan berfungsi untuk melindungi tubuh dari infeksi. Neutrofil membantu melawan infeksi dengan cara menangkap dan menghancurkan mikroorganisme yang menyerang tubuh. Neutrofil dianggap pembunuh patogen yang paling bersemangat dalam membantai berbagai mikroorganisme penyebab penyakit dalam tubuh. 

Makin banyak virus maka sistem imun akan mengerahkan pasukan yang juga sangat banyak untuk melawannya. Hal ini akan mengakibatkan cairan darah terkonsentrasi di paru-paru tempat terjadinya infeksi, sambil perang terus berjalan tanpa sadar paru-paru kita akan dipenuhi oleh cairan. Petukaran oksigen dengan karbondioksida pada paru-paru akan terhambat. Lama kelamaan kadar oksigen dalam darah menurun dan karbondioksida akan berlebih. Hal ini akan memacu otak untuk memaksa otot pernafasan bekerja ekstra menggenjot lebih banyak oksigen masuk. Terjadilah sesak nafas. Termasuk nyeri dada pada penderita Covid jika bertambah parah infeksinya. (Note: Jadi sesak nafas pada penderita Covid itu karena infeksinya meluas di paru-paru ya! BUKAN karena terlalu sering pakai masker. Masker bertujuan melindungi kita dari infeksi dan melindungi agar kita tidak menginfeksi orang lain. Menanggalkan masker saat kita menderita Covid justru sangat berbahaya karena akan memperbesar peluang orang-orang disekitar kita terkena Covid. Bagaimana jika sesak di rumah dan harus pakai tabung oksigen? Ya solusinya isolasi. Karena tak mungkin memakai oksigen bantuan sambil memakai masker. Upayakan ada di lokasi yang steril, pantau terus saturasi dan baiknya segera hubungi rumah sakit. Apalagi jika sesaknya bertambah parah, oksigen bantuan yang dibutuhkan harus semakin besar dan kadang tabung oksigen yang ada dirumah/ukuran kecil tak akan mampu menyediakan supply nya)


 

Gbr 8. Killer T-Cell membunuh sel yang terinfeksi (sumber: breakthroughs)


Pasukan imun kebingungan, perintah menjadi tumpang tindih tidak jelas. Salah satu pasukan imun pembunuh kuat yang lain, Killer T-Cell, mulai error. Biasanya, sel T ini nyuruh sel-sel yang terinfeksi untuk bunuh diri, namun sel-sel yang sehat juga disuruh ikutan bunuh diri. Paru-paru akhirnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Prosentasi serapan oksigen menurun, hal ini dapat dilihat dari nilai saturasi yang makin rendah di bawah 90. Pengalaman Ayah saya saturasi oksigennya sampai 70 akhirnya saat ini terpaksa masuk ICU (Mohon doanya agar lekas sembuh). Orang yang saya kenal malah ada yang saturasi oksigennya 37 dan akhirnya wafat beberapa saat kemudian. Keduanya akibat Covid-19. Saturasi oksigen adalah persentase Hb (Hemoglobin) yang mengikat oksigen atau kejenuhan Hb yang teroksigenisasi. Saturasi oksigen seseorang dapat diukur dengan alat yang bernama oximeter. Pengukurannya dilakukan dengan cara menjepitkan oximeter pada jari tangan. Saturasi oksigen kemudian akan diukur berdasarkan jumlah cahaya yang dipantulkan oleh sinar inframerah, yang dikirim ke pembuluh darah kapiler.



Gbr 9. Oksimeter (dokumentasi penulis)


Makin banyak sel imun yg datang, makin banyak pula kerusakan yang terjadi. Situasi semakin kacau. Paru-paru yang jadi medan pertempuran pun babak belur. Jumlah virus Covid yang semakin banyak dan jumlah kerusakan pada alveolus paru-paru yang semakin meluas memicu kolapsnya sistem pernafasan kita. Penderita akan mengalami sesak hebat yang apabila tidak ditangani dengan segera menggunakan bantuan oksigen dari tabung maka akan berpeluang terjadinya gagal nafas hingga kematian. Saat puncaknya sistem pernafasan akan mengalami distres. Terjadilah Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Pada kondisi ini, pasien mulai kehilangan kemampuan ventilasi spontannya dimana paru-parunya tak bisa kembang kempis untuk bernafas. Gangguan ventilasi spontan terjadi sehingga pasien memerlukan ventilator. Ventilator ini dimasukkan dari rongga mulut hingga ke paru-paru. Kalian bisa bayangkan deritanya sebagaimana bisa dilihat pada gambar.


Gbr 10. Cara kerja ventilator (sumber: Tempo.com)

BERSAMBUNG…
(Episode 2: 
ADA APA DENGAN CORONA? SERBA – SERBI COVID-19 (PART 2)
PERJUANGAN MELAWAN COVID (PART 2)

Berisi pengalaman saya berjuang melawan Covid-19. Ditulis sambil menahan sesak akibat infeksi Covid-19. Seraya menunggu Ayah yang terpaksa dirawat di ruang isolasi Covid-19. Sambil penuh harap Ayah bisa sembuh. Semoga bermanfaat bagi yang belum terkena Covid agar bisa lebih waspada jika diri atau keluarga terserang Covid-19.


Untuk lebih memahami ilustrasi terkait Infeksi Covid-19, morfologi Covid-19, mekanisme infeksi virus Covid-19, reaksi imunitas tubuh, proses terjadinya sesak nafas, dan juga seputar vaksinasi. Dapat melihat video berikut ini!





Share:
belajar asyik

Bima Ariyo

Seorang Guru, Desainer, Motivator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *