Evolusi merupakan kata yang berasal dari bahasa latin yang artinya ”membuka gulungan” atau ”membuka lapisan”. Kemudian bahasa itu diserap menjadi bahasa inggris evolution yang berarti perkembangan secara bertahap. Di dalam
biologi, pengertian evolusi telah mengalami perkembangan, menurut Darwinisme: Evolusi adalah perubahan bertahap pada rentang waktu yang sangat panjang (makro evolusi). Dengan berkembangnya genetika molekuler, para ilmuwan mengembangkan teori evolusi komprehensif yang menggabungkan Darwinisme dengan Mendelisme yang selanjutnya dikenal sebagai sintesis modern (modern synthesis). Menurut sintesis modern: evolusi adalah perubahan frekuensi alel dari suatu populasi persatuan waktu (mikro evolusi) (Iskandar, 2008).

Membahas soal evolusi pasti mengarah ke Charles Darwin, padahal Darwin merupakan hanya salah satu ilmuwan evolusioner jadi bukan satu-satunya, masih banyak teori evolusi lain yang biasa digunakan oleh para naturalis dan biolog untuk melihat perubahan dari suatu makhluk hidup. Evolusi dominan digunakan dalam kaitan secara biologi atau zoologi, tetapi ada juga menggunakan evolusi dalam kebudayaan, salah satu ilmuwan yang menggunakan evolusi dalam dunia kebudayaan adalah ilmuwan muslim yang bernama Ibnu Maskawai (Abu Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Yakub bin Maskawai).

Definisi evolusi oleh para ilmuwan kebanyakan terlalu sulit dimengerti dan berbelit-belit dalam penuturannya bahkan dapat menimbulkan kontroversi, karena disebabkan setiap ilmuwan yang mencetuskan makna dari evolusi itu berdasarkan keyakinan mereka masing-masing, jadi peneliti berikutnya tinggal memilih mana yang cocok dengan penelitian yang mereka butuhkan. Menurut Waluyo (2010) membahas evolusi terutama dalam bidang biologi tidak hanya dilihat pada perkembangan berdasarkan faktor genetik semata, tetapi didukung oleh multidisipliner ilmu lainnya seperti ekologi, sistematika, embriologi, molekuler, anatomi perbandingan, distribusi geografi, seleksi alam, dan lain-lain. Menurut Aisyah Latun Ummiah (2017), Ada 4 teori evolusi yang terkenal dan dipakai hingga saat ini, di antaranya sebagai berikut:

Teori Fixisme Aristoteles

Ilmuwan terkenal yang menganut paham teori ini adalah Aristoteles, Plato, Leeuwenhoek, Cuvier, Linnaeus, Hook, dan Buffon. Teori ini dicetuskan pada tahun 348-432 Sebelum Masehi, beliau yang mengatakan bahwa “ Organisme yang ada dianggap tidak sempurna tetapi bergerak kearah keadaan yang lebih baik dan suatu jenis organisme yang diciptakan Tuhan adalah tetap (fix = tetap). Apabila terdapat kelainan atau cacat tubuh, hal itu disebabkan karena adanya mutasi gen atau kutukan dari Tuhan”. Hingga pada abad ke-18 dimana pada masa tersebut tidak pernah dipertentangkan antara teori satu dengan teori lainnya,

Fixisme dan Kreasionisme (oleh Cuvier, 1769-1832): “Sampai abad ke-19 di Barat, teori yang paling dipercaya adalah fixisme. Spesies selalu seperti apa adanya sejak mereka diciptakan. Mereka tetap dan tidak pernah berubah karena dunia telah diciptakan oleh Tuhan”. Teori ini mirip dengan kreasionisme.

Fixisme adalah teori tentang keanekaragaman kehidupan di bumi yang menegaskan bahwa spesies yang ada saat ini identik dengan spesies masa lalu dan keluar sudah beradaptasi dengan lingkungan tanpa mengalami perubahan. Fixisme menentang evolusionisme karena evolusionisme adalah gagasan bahwa spesies saat ini muncul dari transformasi bertahap yang dialami oleh spesies leluhur dan spesies yang punah. Versi agama dari fixisme disebut kreasionisme. Banyak bentuk kreasionisme yang berbeda ditemukan dalam mitologi berbagai agama. Para penafsir agama modern mengajarkan kreasionisme sebagai kebijaksanaan metaforis dan bukan sebagai lawan dari evolusionisme.

Terdapat isi pernyataan lain dari Aristoteles yakni “ Saya yakin bahwa makhluk hidup itu ada karena benda mati (berasal dari benda mati) dan semuanya muncul secara spontan. Sehingga, dari pernyataan beliau muncul sebutan ‘Generatio Spontanea.

Teori Lamarckisme ( Masa Adaptasi dan Transformasi)

Teori ini dicetuskan oleh Jean Baptisme de Lamarck (1744-1829), beliau merupakan ahli botani dan orang pertama yang menyusun sebuah teori evolusi yang menjelaskan bagaimana dan mengapa perubahan terjadi. Beliau yakin bahwa makhluk hidup memiliki suatu kecendrungan alamiah untuk berkembang maju, serta memiliki kemampuan meneruskan ciri-ciri berguna yang berkembang selama perjalanan hidup mereka. Menurut Lamarck, pengaruh lingkungan dapat merubah bagian tubuh makhluk hidup baik ciri, sifat, dan karakternya. Jika bagian tubuh dari makhluk hidup selalu atau sering digunakan, maka bagian tersebut makin lama dapat berubah sehingga sesuai untuk digunakan pada lingkungan tersebut, begitu juga sebaliknya.

Lamarck mengambil contoh mengenai panjang leher jerapah. Menurutnya nenek moyang jerapah dahulu berleher pendek. Pada suatu ketika terjadilah bencana kekeringan sedemikian rupa sehingga jerapah hanya dapat memperoleh makanan dengan mengambil daun-daun yang ada di pepohonan. Karena sering mengambil daun-daun di pohon untuk dimakan, akibatnya leher jerapah tertarik, makin lama makin panjang. Akhirnya sifat perolehan yang baru yaitu leher panjang diwariskan pada generasi-generasi berikutnya sehingga jerapah sekarang berleher panjang. Menurut pandangan Graebner (2008) perubahan yang terjadi pada makhluk hidup disebabkan karena pengaruh alam atau rekayasa manusia (hibridisasi).

Hukum Mendel ( Masa Teori Genetika dan Evolusi Modern)

Pencetus teori ini adalah Gregor Johann Mendel (1865), beliau merupakan seorang biarawan Austria yang mengemukakan bahwa sifat-sifat tertentu dapat diturunkan dengan ketelitian yang akurat. Mendel berhasil analisis yang cermat dengan interpretasi yang tepat atas hasil-hasil percobaan terhadap tanaman sayur-sayuran dalam rangka mencari bibit unggul. Mendel mengemukakan bahwa sifat- sifat tertentu dapat diturunkan dengan mengamati pola pewarisan sifat demi sifat sehingga menjadi lebih mudah untuk diikuti (Andi Burhanuddin, 2016), .Teori ini lebih dikenal dengan istilah teori kawin-silang.

Terung kita ketahui memiliki beberapa modifikasi bentuk. Ada yang bulat berwarna hijau hingga lonjong berwarna unggu. Meskipun keduanya merupakan spesies yang sama. Berikut perkiraan asal muasal terung.

Begitu juga dengan apel. Apel dahulu berwarna hijau, namun seiring berjalannya waktu apel berwarna merah dan ada juga yang merah tua.

Tomat memiliki ukuran yang berbeda ketimbang nenek moyangnya. Dahulu kala tomat berukuran kecil, kemudian bertambah ukurannya seiring waktu. Hingga saat ini kita dapati ada tomat yang ukurannya sedang dan besar.

Pisang dan semangka purba memiliki banyak biji yang tentunya akan menyulitkan apabila dikonsumsi. Sedangkan pisang saat ini bahkan tidak ditemukan biji sama sekali pada buahnya. Begitu juga dengan semangka dimana bijinya makin sedikit dan buahnya bisa kita nikmati.

Wortel memiliki umbi yang tidak menarik. Namun saat ini umbi pada wortel berkembang dan bahkan mendominasi pertumbuhan sehingga lebih besar dari tanaman pokoknya dengan warna yang juga lebih cerah.

Nenek moyang jagung memiliki bulir biji yang kecil dan bahkan tidak terlalu nikmat untuk dikonsumsi bijinya. Saat ini jagung merupakan salah satu makanan pokok yang bijinya digemari oleh banyak orang.

Teori Evolusi Darwin (Seleksi Alam) dan Teori Neo Organik Darwin

Teori ini dicetuskan oleh Charles Robert Darwin pada tahun 1809-1882, beliau merupakan ilmuwan dan naturalis berkebangsaan Inggris yang tidak mengenyam pendidikan biologi malahan beliau bersekolah di bidang farmasi (obat-obatan). Teori Darwin adalah teori seleksi alam Darwin yang juga dikenal dengan teori Darwin abad ke-19. Ada dua isi penting dari teori tersebut yaitu. Pertama, menyatakan semua makhluk hidup yang ada di bumi ini adalah hasil keturunan dari moyang yang sama yang mengalami modifikasi.

Darwin justru menegaskan dalam bukunya yang paling fenomenal berjudul The Origin of Species bahwa “ Suatu individu atau spesies bukanlah bersifat tetap. Akan tetapi, seluruh makhluk hidup itu bersifat fleksibel atau dapat berubah bentuk. Dalam buku Andi Burhanuddin (2016) teori ini menyatakan spesies bukan merupakan sesuatu yang kekal atau tidak mengalami perubahan, melainkan berevolusi melalui proses perubahan, melainkan berevolusi melalui proses perubahan bertahap dari berbagai spesies yang ada. Teori ini juga menyatakan bahwa semua spesies memiliki hubungan darah. Kedua, teori tersebut menyajikan sejumlah besar fakta yang dianggap Darwin hanya dapat dijelaskan dengan teori evolusi, tidak cukup dengan teori penciptaan khusus.

Darwin juga berpendapat suatu spesies muncul di alam melalui kompetisi hidup. Kompetisi hidup melindungi individu yang memiliki variasi yang menguntungkan dalam hidup dan akan diteruskan pada keturunannya. Charles Darwin menyebutnya ‘prinsip seleksi alam’. Jika proses variasi yang dapat membuat organisme menang dalam kompetisi hidup terus terjadi, variasi itu perlahan-lahan akan menjadi jelas dan berevolusi sehingga berbeda dengan spesies aslinya. Kompetisi hidup terus terjadi, variasi itu perlahan-lahan akan menjadi jelas dan berevolusi sehingga berbeda dengan spesies aslinya.

Seperti digambarkan pada ilustrasi evolusi pada jerapah berikut ini. Jerapah dengan leher pendek akan kesulitan berkompetisi dengan jerapah berleher panjang sehingga jerapah berleher pendek punah dan jerapah berleher panjang tetap lestari hingga saat ini.

TUGAS
1. Tuliskan menurut hasil analisismu dari berbagai sumber bacaan. Dari manakah asal muasal manusia yang hidup saat ini?
2. Apakah kehidupan di muka bumi berasal dari sebuah proses evolusi? Jelaskan dengan berbagai konsep yang kalian fahami hasil literasi berbagai sumber!
3. Bagaimana bisa terjadi kepunahan pada makhluk hidup di muka bumi? Sebagai contoh dinosaurus, jelaskan kemungkinan penyebab mereka punah!
(KERJAKAN DI BUKU TULIS)

Share:
belajar asyik

Bima Ariyo

Seorang Guru, Desainer, Motivator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *